*",Yang kami butuhkan hanya pertanggungjawaban dari perusahaan terkait. Akibat kejadian ini kami susah mendapatkan air bersih di kebun,"*
![]() |
| Kondisi air sumur menjadi hitam seperti minyak mentah |
PALI, BARRASUMSEL.ID - Warga Desa Gunung Raja, Kecamatan Penukal, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) dibuat resah. Air sumur yang selama bertahun-tahun menjadi andalan untuk kebutuhan sehari-hari di kebun, mendadak berubah menjadi hitam pekat menyerupai minyak bumi.
Fenomena janggal ini tidak hanya terjadi pada satu sumur. Sedikitnya 13 sumur milik warga di hamparan lahan seluas 13 hektare dilaporkan mengalami kondisi serupa.
Pantauan di lokasi, Selasa (22/9/2026), salah satu sumur milik Aswan yang berada di tengah kebun sawit terlihat dipenuhi cairan hitam pekat. Kondisi yang sama juga ditemukan di sumur-sumur lain yang lokasinya berdekatan.

Warga mendesak ada pertanggungjawaban dari pihak perusahaan terkait
Aswan menuturkan, sumur miliknya itu sudah dibuat dan digunakan sejak tahun 2021. Perubahan warna air baru terjadi belakangan ini.
"Pertama kali terjadi pada 15 Juli 2026 di sumur milik kerabat saya yang berada di seberang jalan, masuk Desa Babat. Kemudian pada 20 Juli 2026, giliran sumur di lahan saya yang terdampak," ujar Aswan.
Jika ditotal, dari 13 sumur yang terdampak tersebut, 11 sumur berada di wilayah Desa Gunung Raja, dan 2 sumur lainnya berada di Desa Babat.
Perubahan ini membuat warga kesulitan mendapatkan air bersih untuk aktivitas di kebun.
![]() |
| Kondisi air sumur menjadi hitam seperti minyak mentah |
Berbagai upaya sudah dilakukan, termasuk membuat sumur baru. Namun hasilnya tetap sama.
"Bahkan saat mengetahui sumur yang telah dibuat sejak 2021 terkena limbah minyak, kami buat sumur yang baru. Hasilnya limbah minyak tetap saja muncul. Tidak hanya satu sumur baru, tapi ada empat sumur baru yang serupa," ungkapnya.
Aswan mengaku tidak ingin gegabah menuding pihak tertentu. Ia hanya berharap ada kejelasan dan tanggung jawab jika nantinya terbukti ada kaitannya dengan aktivitas industri di sekitar.
"Kami tidak ingin menuduh. Yang kami butuhkan hanya pertanggungjawaban dari perusahaan terkait. Akibat kejadian ini kami susah mendapatkan air bersih di kebun," tegasnya.
Persoalan ini ternyata sudah sampai ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten PALI.
Heriyanto, anggota Tim Pengawal dan Pengawasan Pembangunan (TPUPP) PALI yang juga tokoh masyarakat Desa Gunung Raja, mengatakan setelah mendapat laporan warga, pihaknya langsung berkoordinasi dengan DLH.
Selanjutnya, DLH bersama perusahaan migas yakni PT Medco E&P dan PT Pertamina EP Field Pendopo turun langsung ke lokasi dan mengambil sampel air untuk diuji di laboratorium.
"Saat ini pihak DLH PALI masih menunggu hasil uji laboratorium," kata Heriyanto.
Menurutnya, hasil lab sangat penting untuk mengetahui penyebab pasti hitamnya air sumur warga.
"Sebenarnya keinginan masyarakat tidak muluk-muluk. Hanya ingin pertanggungjawaban dari perusahaan. Jangan perusahaan mencari cuan saja di PALI, lantas kemudian mengabaikan lingkungan sekitar," tegas Heriyanto.
Ia juga mengungkapkan, sebelum kejadian ini, pernah terjadi kebocoran pipa transfer milik PT Medco E&P dan sudah diperbaiki. Namun ia belum bisa memastikan apakah ada kaitan antara kebocoran pipa tersebut dengan kondisi sumur warga saat ini.
"Sementara untuk kejadian yang saat ini, kami belum tahu apa penyebabnya. Karena pihak DLH PALI mengaku masih menunggu kabar dari SKK Migas," ujarnya.
Warga berharap hasil pemeriksaan segera keluar agar persoalan tidak berlarut-larut.
"Kami hanya berharap permasalahan ini cepat diselesaikan agar masyarakat bisa kembali beraktivitas seperti biasa," pungkasnya.
Hingga berita ini diterbitkan, Redaksi masih menunggu konfirmasi dan klarifikasi dari pihak perusahaan migas yang disebut dalam pemberitaan.
(B4RR4/Red)


